Beberapa waktu lalu, di minggu pertama Desember, saya memesan kepada seorang teman untuk dibelikan beberapa buku dan VCD Supreme Master Ching Hai (SMCH) di salah satu stand di Indonesia Book Fair – Jakarta. Saya dengar nama dia sekitar 2 tahun lalu. Tidak banyak hal yg saya ketahui tentang dia waktu itu. Setahu saya dia punya ajaran new age yg berbicara tentang komunikasi trasedental, that’s all..
Lalu saya dibelikan vcd salah satu rekaman ceramah SMCH di Manila, dan sebuah buku karya-nya, berjudul ‘Aku Datang Untuk Membawamu Pulang’. Awalnya hanya kepenasaran aja, kok tiba-tiba SMCH muncul di publik dalam bentuk stand semi-eksebisi begitu. Beberapa tahun terakhir Falun Dafa juga melakukan hal yg sama, tapi kali ini label nya cukup fokus kepada seorang tokoh, The Supreme Master Ching Hai, lengkap dengan foto dirinya yang berukuran mencolok mata. Singkat cerita saya habiskan buku itu, dan saya tonton rekaman ceramahnya.
She’s amazing man! Saya cuma bisa bilang itu sama kalian. Gagasan utama yang disampaikannya seputar ‘mendekatkan dan menghubungkan diri kita dengan Tuhan’ dan ‘mencapai tingkat kesadaran tertinggi untuk menuju surga’. Ada beberapa konsep pengembangan yang pada akhirnya, selalu sampai di kesimpulan, “kita harus mencapai kesadaran spiritual tertentu agar bisa menghadirkan Tuhan di dalam diri’.
Sebenarnya gagasan spiritual seperti itu bukan hal yang baru untuk penganut agama dan filsafat timur. Bahkan SMCH dalam buku dan ceramahnya mengutip isi ajaran Budha, Taoisme, Injil, dan Al Qur-an. Memang ajaran Budha lebih kental mengalir dalam presentasinya. Jika ditelusuri historis nya, SCMH yang lahir di salah satu kota di Vietnam.Ia terinspirasi ajaran Tao dari neneknya meski kedua orang tuanya beragama Katolik. Perjalanan spiritualnya pun membawanya ke Himalaya India, sampai akhirnya ia membuat satu metode meditasi Kuan Yin - Meditasi Cahaya dan Suara. Menurutnya, Tuhan hadir kedalam diri kita lewat Cahaya yang tidak bisa dilihat oleh mata, dan Suara yang tidak terdengar oleh telinga, abstrak huh? Guru yang baik akan selalu menunjukan bagaimana kita mencapai Cahaya dan Suara, yang dimaksud di ajaran ini.
Yang berbeda adalah, SMCH menumbuhkan motivasi spiritual audiensnya dengan pendekatan yang ‘terlihat mudah’. Betapa kita terus menerus diingatkan bahwa Tuhan sebenarnya dekat dengan kita, dan untuk mencapainya bukan hal yang sulit. Hanya diperlukan kesungguhan dan sedikit latihan meditasi, maka SMCH akan membantu menyalurkan Cahaya Surgawi kepada kita. Hanya diperlukan keterbukaan jiwa untuk menerima Cahaya dan Suara dari Surga untuk meningkatkan kita menjadi manusia dengan kesadaran lebih tinggi. Bertemu dan berbicara dengan Tuhan, terdengar mudah ketika disampaikan olehnya.
Di ceramahnya, dengan sangat ekspresif ia menyampaikan bahwa semua orang bisa berkomunikasi dengan Tuhan, dan untuk mencapai itu sangat mudah, “I will teach you how, later” ungkapnya. Lanjutnya lagi, setelah terbiasa maka kita akan bisa berkomunikasi dengan Tuhan, bahkan ketika kita sedang mencuci piring seklaipun.
Bukankah yang ‘terdengar mudah’ untuk suatu hal yang agung itu akan lebih bisa diterima oleh masyarakat pada umumnya? Seringkali seorang guru spiritual gagal dalam menanamkan esensi pencerahannya, karena tujuan akhirnya, ‘mencapai Tuhan’, terlihat sangat abstrak dan tidak ramah bagi pemahaman orang kebanyakan. Berbicara masalah spiritual dan keTuhanan seakan-akan menjadi milik orang berpendidikan dan berwawasan tinggi. SMCH berhasil membahasakan konsep yang abstrak menjadi sesuatu yang bisa dimengerti.
Berikutnya SMCH
Memang pada akhirnya, totalitas untuk mencapai kesadaran spiritual tertinggi itu bukan sesuatu yang ‘piece a cake’. Tetap saja ada proses latihan dalam konsentrasi, menciptakan keheningan dalam diri, dan meditasi setidaknya 2 jam per hari. Dan jangan dilupakan anjurannya untuk menjadi vegetarian, (you’ll love this part !! ha..ha..). Untuk itulah SMCH menciptakan metode Kuan Yin, dimana sebelumnya kita harus melalui proses inisiasi (semacam membuka cakra/mata batin/soul agar lebih mudah berkomunikasi dengan Tuhan). Ketika sampai di materi ini, ternyata tidak mudah juga untuk bertemu dengan Tuhan.
SMCH adalah wanita yang juga memperhatikan keindahan dalam penampilan fisik. Di beberapa sesi ceramahnya, ia menggunakan pakaian yang mengkombinasikan gaya etnik oriental dengan sentuhan kontemporer. Tidak heran, karena sebagai penopang finansialnya, ia memproduksi disain pakaian, perhiasan, merchandise oriental, cd musik, selain tentu saja, buku. Ekspresi dalam memberikan ceramahnya berkesan ramah dan bersahaja. Mungkin ini sebagai penyeimbang dari materi ceramahnya yang sangat mistis, dan cara berpakaianya yang terlihat mahal.
SMCH memiliki banyak pengikut di hampir semua negara di dunia, bahkan Indonesia. Di Indonesia aktivitasnya di pusatkan di kota Bali, Jakarta, Jogja, Surabaya, dan Malang.
Dengan figur seunik dan sehebat ini, semestinya SMCH bisa lebih demonstratif lagi untuk di publikasikan di Indonesia. Stephen Covey, guru spiritual yg terkenal dg konsep 7 Habits nya, bisa membuat Presiden RI mengangkat bukunya tinggi-tinggi di halaman pertama Kompas awal Desember lalu. Apa yang tidak bisa dilakukan SMCH di Indonesia, jika saja ia dan pengagum ajarannya, diberi kesempatan tampil lebih terbuka lagi.